ABSTRAKSI
PROGRAM
KONSERVASI ALAM DENGAN PENANAMAN SEJUTA POHON PADA KAWASAN WISATA BOROBUDUR DAN
DAERAH SEKITARNYA BERORIENTASI KERAKYATAN DI PROPINSI JAWA TENGAH
DAN DAERAH
ISTIMEWA YOGYAKARTA
SLOGAN
Hijau bumiku,
Hijau
Negeriku,
Segar
udaraku,
Sehat
Bangsaku,
Sejahtera
rakyatku,
Lestari
alamku.
KATA
PENGANTAR
Pertama kami panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hidayah
dan karunia-Nya, kita diberi keselamatan, kesehatan, dan kenikmatan di dunia
ini, sehingga kita selalu berkarya dan bermanfaat bagi umat manusia beserta
lingkungannya yang membuat hidup bisa lebih bermakna.
Berdasarkan pengamatan bahwa perkembangan keadaan lingkungan hidup di sekitar
kita, baik berskala kedaerahan/ regional, nasional, internasional, maupun
global yang semakin menurun kualitasnya, misalnya udara yang semakin tercemar,
air yang semakin kotor, dan kurang merata ketersediaannya, hutan gundul, dan
sebagian tanah yang rusak, maka dengan keadaan yang sedemikian memprihatinkan
itulah yang mendorong kami untuk ambil bagian melakukan kegiatan konservasi
alam dan mengajak berbagai pihak terkait dan berkompeten untuk bersama-sama
peduli akan masalah tersebut.
Adapun pihak yang dimaksudkan antara lain:
1.
Instansi Pemerintah
2.
Produsen
3.
Produsen kendaraan bermotor
4.
Pengelola HPH
5.
Pabrik-pabrik berlimbah (padat, cair, maupun gas)
6.
Perusahaan jasa transportasi ( darat, laut, maupun udara)
7.
Rumah Sakit
8.
Perusahaan Pertambangan,
Untuk menyisihkan
kemampuannya menjalin kebersamaan berpartisipasi dalam mendukung kegiatan
program konservasi alam ini.
Proposal ini menggambarkan keadaan kualitas lingkungan hidup yang sejak
tiga dasa warsa terakhir ini mengalami penurunan yang sangat drastis, khususnya
di Kawasan Wisata Cnadi Borobudur dan daerah sekitarnya yaitu di Kabupaten
Magelang, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah dan Kabupaten Kulon Progo Daerah
Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itu kami berharap kepada semua pihak terketuk
hatinya untuk ”gumregah” mengambil bagian berpartisipasi menyumbangkan dana
untuk mengatasi masalah tersebut di atas.
ORIENTASI KERAKYATAN
TERIMA
KASIH!
DAFTAR ISI
I.
LATAR BELAKANG MASALAH
II.
POKOK-POKOK DAN RUMUSAN MASALAH
III.
TUJUAN PROGRAM
IV.
MANFAAT PROGRAM
V.
TINJAUAN TEORETIS
VI.
TINJAUAN EMPIRIS
VII.
ANALISIS SITUASI
VIII.
RENCANA PENYELESAIAN MASALAH
IX.
TARGET LUARAN
X.
KELAYAKAN ORGANISASI PENGUSUL
XI.
RENCANA SUMBER PEMASUKAN DAN BIAYA PROGRAM
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
PROGRAM KONSERVASI ALAM DENGAN PENANAMAN SEJUTA POHON PADA KAWASAN WISATA
BOROBUDUR DAN DAERAH SEKITARNYA BERORIENTASI KERAKYATAN DI PROPINSI JAWA TENGAH
DAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
I.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Sudah
kita rasakan bersama bahwa suhu udara dan terik matahari kian terasa panas dan
menyengat, hal ini sebagai akibat dari terjadinya pemanasan global (Global
Warming). Sebagai gambaran perubahan rat-rata suhu bumi dari tahun.......... ke
tahun........... HadCM3 (Wikipedia,2008)
Adapun
pemanasan global dapat terjadi disebabkan antara lain: penggundulan hutan,
pembangunan gedung bertingkat (berkaca).
Di
samping suhu panas permukaan bumi yang semakin meningkat, juga udara yang kita
hirup kualitasnya semakin menurun/ kotor yang berdampak terhadap kesehatan
manusia.
Pemerataan
tata ketersediaan air yang kurang merata, artinya di suatu daerah kekurangan
tetapi di daerah lain terjadi banjir bandang.
Meningkatnya
kerusakan hutan di Indonesia DATA?
Secara
umum bahwa kualitas lingkungan hidup kita baik air, udara, dan limbah hidup
manusia semakin memprihatinkan.
II.
POKOK-POKOK
DAN RUMUSAN MASALAH
Memperhatikan latar belakang masalah yang telah ditulis di atas, untuk
memperjelasarah kegiatan dan tujuan program, maka permasalahan yang akan
diselesaikan perlu diidentifikasi pokok dan perumusan masalah, seperti di bawah
ini:
2.1.
Permasalahan secara umum bagaimanakah melestarikan alam
yang akhir-akhir ini kualitas ekosistemnya semakin menurun.
2.2.
Bagaimanakah menggerakkan masyarakat, khususnya generasi
penerus bangsa agar peduli terhadap pelestarian alam?
2.3.
Bagaimanakah melestarikan jenis-jenis tanaman yang ada di
Indonesia yang semakin langka?
2.4.
Bagaimanakah mengembangkan kuantitas jenis-jenis tanaman baru
yang nilai ekonominya tinggi?
2.5.
Bagaimanakah menahan laju pencemaran udara yang dewasa
ini kualitas udara yang kita hirup semakin kotor?
2.6.
Bagaimanakah meningkatkan kesejahteraan masyarakat
melalui usaha penanaman pohon?
Dari butir
pokok-pokok masalah tersebut di atas, secara umum rumusan permasalahannya adalah
bagaimanakah meningkatkan kesejahteraan hidup manusia dengan mengadakan program konservasi lingkungan hidup sebagai
usaha pelestarian alam?
III. TUJUAN PROGRAM
Program
pelestarian alam dengan penanaman sejuta pohon yang berbasis kerakyatan
mempunyai tujuan antara lain sebagai berikut:
1.
Untuk memotivasi masyarakat khususnya generasi penerus
bangsa “care” / peduli tentang konservasi alam.
2.
Perlindungan tata air tanah dan menjaga kelangsungan
ketersedian kebutuhan air bagi kehidupan di bumi.
3.
Meningkatkan usaha konservasi hayati
4.
Menjaga dan melestarikan keragaman hayati, terutama
jenis-jenis tanaman langka.
5.
Mengurangi laju pencemaran udara dari asap yang
dikeluarkan oleh pabrik, kendaraan darat, kendaraan laut, maupun pesawat udara.
6.
Meningkatkan ketersediaan oksigen dimulai bumi.
7.
Mengembangkan jenis-jenis tanaman baru yang nilai
ekonomisnya tinggi.
8.
Meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya masyarakat
di sekitar kawasan Taman Wisata Candi Borobudur yang mencakup wilayah Propinsi
Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui penanaman pohon tahunan
produktif, dengan berbasis kerakyatan.
9.
Memotivasi para produsen, pengusaha, masyarakat luas yang
karena kegiatannya ”menusuk” lingkungan hidup, untuk sadar berkontribusi dalam
usaha-usaha pelestarian alam.
IV. MANFAAT PROGRAM
Berdasarkan latar
belakang, pokok-pokok permasalahan, tujuan tersebut di atas, Program
Pelestarian Alam dengan Penanaman Sejuta Pohon pada Kawasan Taman Wisata Candi
Borobudur dan Daerah Sekitarnya di Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa
Yogyakarta, diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
4.1.
Bagi Dunia
4.1.1. Penghijauan di bumi berarti dapat memperbaiki kondisi paru-paru
dunia dengan bertambahnya oksigen di permukaan bumi.
4.1.2. Dapat menahan laju pemanasan global (Global Warming)
4.2.
Bagi Kehidupan
4.2.1. Dapat
meningkatkan kualitas kehidupan manusia baik kesehatan maupun ekonomi.
4.2.2. Dapat
melestarikan kehidupan flora dan fauna.
4.2.3. Dapat
melestarikan kehidupan ikan air tawar.
4.3.
Bagi Bangsa & Negara Indonesia
4.3.1. Dapat
menumbuhkan jati diri bangsa dan negara Indonesia yang peduli tentang
pelestaran alam, sehingga dapat mengharumkan nama Indonesia di mat dunia.
4.3.2. Dapat
meningkatkan tingkat kesejahteraan rakyat melalui sumber daya alam.
4.3.3. Dapat
memotivasi generasi penerus bangsa untuk peduli tentang pelestarian alam.
4.4.
Bagi Pemerintah Daerah
4.4.1. Pelaksanaan
program ini dapat mengurangi jumlah pengangguran.
4.4.2. Dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan cara menjual hasil penanaman.
4.4.3. Dapat
lebih menggairahkan perekonomian daerah....?
4.5.
Bagi Taman Wisata Candi Borobudur
4.5.1. Mempertegas
eksistensi Taman Wisata Candi Borobudur sebagai Taman Purbakala Nasional, tidak
saja melestarikan warisan budaya namun juga melestarikan flora dan fauna yang
merupakan sabuk daerah hijau sebagai pengaman candi (green safety belt).
4.5.2. Sebagai
implementasi dari salah satu misi PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan,
dan Ratu Boko dapat berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat
sekitar dengan menjual hasil buah-buahannya kepada pengunjung.
4.6.
Bagi Masyarakat sekitar Candi Borobudur
Dapat menambah kesejahteraan yang lebih baik dari segi kualitas:
·
Kecukupannya persediaan kebutuhan air untuk kehidupan
·
Udara yang lebih baik
·
Tanahnya menjadi subur
·
Ekosistem yang lebih baik
·
Ekonomi keluarga yang lebih baik yang diperoleh dari
hasil yang telah ditanam.
4.7.
Bagi Ilmu Pengetahuan
4.7.1. Sebagai
pengembangan ilmu pengetahuan tentang keragaman hayati.
4.7.2. Sebagai
obyek penelitian yang menarik.
4.7.3. Menambah
khasanah Ilmu Pengetahuan tentang flora.
4.8.
Bagi Perusahaan-perusahaan Donatur/ Peserta Pendanaan
Dapat mengangkat citra baik secara
organisasi maupun perorangan atas keikutsertaannya dan turut bertanggung jawab
akan pelestarian alam.
V. PENDEKATAN TEORETIS
PENGHIJAUAN
Menurut
pengertian yang umum dianut sekarang ini antara penghijauan dan penghutanan
tidak ada perbedaan hakiki. Perbedaannya hanya terletak pada tahana (status)
tempat kedua macam kegiatan ini dilakukan. Penghijauan dikerjakan pada kawasan
pertanian, khususnya kawasan pertanian rakyat, sedang penghutanan dikerjakan
pada kawasan hutan. Pengertian penghijauan bertambah kabur lagi setelah orang
mencoba menyisipkan pengertian ”agroforestry” ke dalam pelaksanaan penghijauan
(Notohadiprawiro, 1980). Ada lagi rumusan yang membingungkan, yang menganjurkan
untuk mempercepat usaha rehabilitasi tanah-tanah kritik dengan jalan
meletakkannya di bawah kuasa langsung pemerintah dan memasukkannya dalam
kawasan hutan. Juga disarankan untuk menggerakkan inisiatif dan modal swasta
dalam mengusahakan tanah-tanah yang tidak produktif dengan jalan memberikan
bantuan yang diperlukan dan insentif yang menarik (Alumni Home Coming Day III,
Fakultas Kehutanan IPB, 1976). Rumusan dan anjuran ini jelas bernada bertolak
belakang dengan salah satu pernyataan dalam ” Perintjian Kebidjaksanaan dan
Rentjana Kerdja Departemen Kehutanan” (1966) yang menegaskan, bahwa pemakaian
tanah sebagai kesatuan modal dan alat produksi harus memiliki fungsi sosial dan
ekonomi bagi kesejahteraan rakyat.
Sebenarnya
penghijauan adalah suatu kegiatan yang mengandung dua tujuan pokok yang saling
berkaitan erat (1) Memasukkan gatra ekologi atau pelestarian lingkungan dalam
usahatani dan dalam membina daerah pemukiman, dan (2) Meningkatkan
produktivitas usahatani dan pekarangan serta membuat nyaman lingkungan tempat
tinggal. Mengingat tujuan-tujuan itu jelaslah, bahwa penghijauan merupakan
unsur tataguna lahan, dan karena itu berciri tempat dan waktu. Hakekat
penghijauan ialah metode biologi untuk pembenahan tataguna lahan. Metode
mekanik yang sering disertakan pada penghijauan, yaitu penyengketan dan
pengundakan lereng, serta pembuatan saluran pembuang air turah dari aliran
permukaan, merupakan usaha pendukung (suplementary) atau pellengkap
(complementary). Dengan menyertakan tatacara fisika tanah yang lebih mempan
untuk menanggulangi erosi tanah dan pengawetan lengas tanah, a.l. pembongkahan
tanah bero, memulsa, menggarap tanah bawahan (subsoiling), dan penggunaan ”soil
conditioners”, penghijauan dapat ditingkatkan menjadi usaha pengawetan tanah dan
air yang lengkap.
Penghutanan dan
penghijauan harus berbeda, tidak saja dalam hal tahana atau peruntukan
lahannya, akan tetapi terutama dalam konsep dan penghampirannya (approach).
Penghutanan (reboisasi, reforestation) pada asasnya bermaksud membangun kembali
atau mengembangkan suatu masyarakat tumbuhan berupa hutan. Pengertian ”hutan”
di sini sesuai dengan ketentuan struktur vegetasi dan fisiognomi, atau menurut
watak ekologinya. Menurut gawainya, hutan dapat dipilahkan menjadi hutan
lindung dan hutan produksi. Perkebunan dapat disejajarkan dengan hutan
produksi. Penghijauan dimaksudkan untuk membangun kembali atau memperbaiki atau
membenahi suatu sistem gawai (functional system) yang beranasirkan manusia,
tanaman (dengan atau tanpa ternak), dan anasir-anasir fisik lahan. Secara
singkat sistem gawai tadi boleh dinamakan ekosistem pedesaan.
Maka dari itu di
dalam kegiatan penghutanan, pemutusan yang berkaitan dengan perencanaan
komprehensif pada asasnya hany terbagi menjadi dua kategori, yaitu alternatif
teknik dan pilihan ekologi. Di dalam penghijauan, sebagai salah satu bagian
pengelolaan ekosistem pedesaan, diperlukan tiga kategori pemutusan yang
berkaitan dengan perencanaan komprehensif. Ketiga kategori itu ialah alternatif
teknik, pilihan ekologi, dan pilihan kelembagaan atau organisasi sosial dan
budaya (technical alternatives, ecological choices, institusional choices or
social and cultural organization; Michigan State Univ., 1976).
King (1979)
mengatakan, bahwa sistem agroforestry hendaknya dilaksanakan terutama pada
lahan yang kritik secara ekologi, yang berharkat tepian (marginal) untuk
pertanian. Lahan seperti itu sebenarnya secara hakiki tidak memiliki kemampuan
untuk diusahakan menghasilkan hasil panen pertanaman pertanian secara lestari.
Lahan itu terpaksa harus diikut-sertakan dalam kegiatan produksi pertanian
untuk membantu menopang kehidupan penduduk yang tdak sedikit jumlahnya. Jadi
secara tersirat, agroforestry merupakan suatu upaya yang dapat memperluas lahan
usaha pertanian ke lahan-lahan yang semula tidak memiliki harkat sebagai lahan
pertanian. Sekali lagi perlu ditekankan, bahwa agroforestry harus dapat membaur
dengan praktek pertanian setempat.
D.A.S. SEBAGAI SUATU SUMBER DAYA DARAT DAN SISTEM
Yang
diartikan dengan sumberdaya (resource) ialah suatu persediaan barang yang
diperlukan, berupa suatu cadangan yang dapat diperoleh (Menard, 1974:
Obtainable reserve supply of some desirable thing). Jadi pengertian sumberdaya
selalu menyangkut manusia dan kebutuhannya serta usaha atau biaya untuk
memperolehnya. Oleh karena berkaitan dengan kebutuhan manusia maka
sumberdaya memiliki arti nisbi (relative).
Sumberdaya
dapat dipilahkan atas dasar kehadirannya (existence):
1. Sumberdaya
alam, yang hadir karena perbuatan alam, yaitu udara, air, tanah, minyak bumi,
hutan rimba, dsb.
2. Sumberdaya
budaya (artificial), yang hadir karena perbuatan manusia, yaitu waduk, polder,
tanah sawah, hutan budidaya, perkebunan, manusia sendiri dengan ilmu dan
keterampilannya dsb.
Sumberdaya
dapat pula dipilahkan menurut kemantapannya terhadap pengaruh atu tindakan
manusia:
- Sangat mantap, yang dapat dikatakan tidak
terkenakan atau tidak mudah terkena pengaruh atau akibat tindakan manusia,
yaitu iklim, corak timbulan makro, sumber panas bumi, laut, dsb.
- Cukup mantap, yang secara bernagsur dalam jangka
waktu panjang dapat terpengaruh oleh tindakan manusia, yaitu tanah,
hidrologi wilayah, danau, lereng, dsb.
- Kurang atau tidak mantap, yang secara nisbi cepat
terpengaruh oleh tindakan manusia, yaitu vegetasi, marga satwa, dan lain-lain
masyarakat hayati.
Suatu
sumberdaya tertentu dapat memiliki nilai kemantapan beraneka, tergantung dari
gatranya yang diperhatikan. Misalnya, tanah sebagai tubuh memiliki nilai
kemantapan daripada kesuburannya. Mutu air jauh lebih goyah daripada jumlahnya.
Manusia terang tidak dapat mengubah isi padu (volume) udara dalam troosfir,
akan tetapi dia secara nisbi mudah mencemarkannya.
Sumberdaya
sering dipilahkan berdasar kemampuannya memugar diri (self restoring):
1. Terbarukan
(renewable), seperti udara, air, tanah, hutan, dan ikan. Memang ditinjau secara
setempat, air, tanah, hutan, dan ikan dapat menyusut atau habis. Akan tetapi
secara keseluruhan, mereka itu tidak akan habis selama faktor-faktor
pembentuknya masih tetap bergawai (functioning). Bahkan yang habis di suatu
tempat akan dapat timbul kembali jika diberi kesempatan cukup.
2. Tak-terbarukan
(non-renewable), seperti minyak bumi, panas bumi, dan cebakan (ore) mineral.
Sudah barang tentu mereka pun dapat terbentuk kembali kalau diberi kesempatan berskala
kurun geologi. Akan tetapi hal ini tidak gayut dengan pengelolaan sumberdaya.
DAS (resume eyom)
Pengelolaan daerah tadahan atau hulu ditujukan untuk mencapai hal-hal
berikut ini (Roy & Arora, 1973):
- Mengendalikan aliran permukaan turah (excess) yang
merusak, sebagai usaha mengendalikan banjir.
- Memperlancar infiltrasi air ke dalam tanah.
- Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk
maksud-maksud yang berguna.
- Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk
memaksimumkan produksi.
Pekerjaan-pekerjaan
persiapan yang diperlukan sebelum memulai kegiatan pengelolaan DAS hulu ialah:
- Membuat potret udara untuk menyusun peta-peta kontur
atau bentuk muka lahan, pola hidrologi permukaan dan geomorfologi.
- Mencatat watak curah hujan (intensitas, jangka waktu,
dan tagihandan penaksiran pola penyaluran air hujan pada permukaan lahan.
- Pemairan (survey0 bahaya banjir pada musim hujan dan
bahaya kekeringan pada musim kemarau.
- Pemairan dan pemetaan tanah, termasuk hidrologi
tanah dan neraca lengas tanah, utnuk memperoleh gambaran tentang mutu
tanah dan ketersediaan air untuk pertanian.
- Pemetaan sumber-sumber air yang dapat dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga.
- Pemairan dan pemetaan kemampuan lahan, termasuk
erodibilitas tanah.
- Pemairan dan pemetaan penggunaan lahan kini,
termasuk vegetasi penutup asli.
- Kalau dipandang perlu, juga dilakukan pemairan dan
pemetaan geologi untuk menyidik (identify) sumberdaya mineral yang
termanfaatkan dan menyifatkan keadaan lingkungan geologi dlam hubungannya
dengan pembangunan teknik dan pemukiman.
Tujuan
pengelolaan DAS hilir dapat diringkaskan sebagai berikut:
- Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi
yang merugikan, sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan.
- Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk
meningkatkan kemampuannya.
- Meningkatkan
dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan.
- Meliorasi
tanah, termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan, dan
kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman, alkali, sulfat
masam, gambut tebal, dan mineral mentah.
Pekerjaan-pekerjaan
persiapan yang diperlukan di DAS hilir sebelum kegiatan pengelolaan dimulai
ialah:
- Pemairan
bahaya banjir opada musim hujan dan bahaya kekeringan pada musim kemarau.
- Menciptakan watak hidrologu lahan, terutama yang berkaitan
dengan pengatusan dan perembihan (internal drainage).
- Pemairan dan pemetaan tanah, termasuk hidrologi tanah dan
neraca lengas tanah, untuk memperoleh gambaran tentang mutu tanah dan
ketersediaan air untuk pertanian.
- Pemetaan sumber-sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk
memenuhi kebutuhan air rumah tangga, kalau perlu juga kebutuhan air untuk
industri.
- Meruntut jangkauan air laut menuju ke pedalaman, yang dapat
menimbulkan bahaya kegaraman tanah dan air, atau mendorong pembentukan
lapisan tanah sulfat masam potensial, lebih-lebih kalau disertai dengan
pelonggokan bahan organik.
- Membatasi bagian lahan dengan tanah yang
berpotensi rendah
- Menetapkan kematangan fisik tanah
- Pemairan dan pemetaan kemampuan lahan.
Macam
data yang harus dikumpulkan:
- Neraca air makro dan mikro
- Erosivitas hujan dan erodibilitas tanah untuk
daerah-daerah beriklim kering, erosivitas hujan diganti erosivitas angin.
- Keadaan iklim hayati, yang mencakup agihannya
menurut tinggi tempat dan kedudukan topografi.
- Proses aluvial dalam geomorfologi.
- Kemampuan lahan untuk pertanian.
- Tataguna lahan kini dan produktivitasnya.
- Ketercapaian wilayah dan keterlintasan medan.
- Kerapatan dan agihan penduduk, laju pertambahan
penduduk, mata pencaharian, kemampuan usaha, tingkat pendapatan dan
kekayaan keluarga, tingkat kesehatan, dan mobilitas penduduk.
- Rata-rata dan agihan luas lahan milik atau garapan,
dan tingkat penerapan teknologi.
PENGHIJAUAN
KOTA
4.1. Kebijakan Perencanaan Ruang Terbuka
Hijau (RTH)
Wilayah Perkotaan
Sebagian besar materi pada sub bab
ini mengacu pada tulisan yang berjudul
”Pengembangan Sistem RTH di Perkotaan”, makalah Lokakarya dalam rangkaian acara
Hari Bakti Pekerjaan Umum ke 60 Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen
Pekerjaan Umum, diselenggarakan di Bogor 30 November 2005.
Pengembangan sistem RTH di perkotan
didasari atas beberapa pemikiran, antara lain:
(1) Keterbatasan luasan kota versus
kemajuan pembangunan kota.
Permintaan akan pemanfaatan lahan
kota yang terus tumbuh
dan bersifat akseleratif untuk untuk
pembangunan berbagai
fasilitas perkotaan, termasuk
kemajuan teknologi, industri dan
transportasi, selain sering mengubah
konfigurasi alami
lahan/bentang alam perkotaan juga
menyita lahan-lahan
tersebut dan berbagai bentukan ruang
terbuka lainnya. Kedua
hal ini umumnya merugikan keberadaan
RTH yang sering
dianggap sebagai lahan cadangan dan
tidak ekonomis. Di lain
pihak, kemajuan alat dan pertambahan
jalur transportasi dan
sistem utilitas, sebagai bagian dari
peningkatan kesejahteraan
warga kota, juga telah menambah
jumlah bahan pencemar dan
telah menimbulkan berbagai ketidak
nyamanan di lingkungan
perkota-an. Untuk mengatasi kondisi
lingkungan kota seperti ini
sangat diperlukan RTH sebagai suatu
teknik bioengineering dan
bentukan biofilter yang relatif
lebih murah, aman, sehat, dan
menyamankan.
(2) Tata ruang kota penting dalam
usaha untuk efisiensi sumberdaya
kota dan juga
efektifitas penggunaannya, baik sumberdaya
alam maupun
sumberdaya lainnya. Ruang-ruang kota yang
ditata terkait dan saling
berkesinambungan ini mempunyai
berbagai pendekatan dalam
perencanaan dan
pembangunannya. Tata guna lahan,
sistem transportasi, dan
sistem jaringan utilitas merupakan
tiga faktor utama dalam
menata ruang kota. Dalam
perkembangan selanjutnya, konsep
ruang kota selain dikaitkan dengan
permasalahan utama
perkotaan yang akan dicari solusinya
juga dikaitkan dengan
pencapaian tujuan akhir dari suatu
penataan ruang yaitu untuk
kesejahteraan, kenyamanan, serta
kesehatan warga dan
kotanya.
(3) RTH perkotaan mempunyai manfaat
kehidupan yang tinggi.
Berbagai fungsi yang terkait dengan
keberadaannya (fungsi
ekologis, sosial, ekonomi, dan
arsitektural) dan nilai estetika
yang dimilikinya (obyek dan
lingkungan) tidak hanya dapat
dalam meningkatkan kualitas
lingkungan dan untuk
kelangsungan kehidupan perkotaan
tetapi juga dapat menjadi
nilai kebanggaan dan identitas kota.
Untuk mendapatkan RTH
yang fungsional dan estetik dalam
suatu sistem perkotaan,
maka luas minimal, pola dan
struktur, serta bentuk dan
distribusinya harus menjadi
pertimbangan dalam membangun
dan mengembangkannya. Karakter
ekologis, kondisi dan
keinginan warga kota, serta arah dan
tujuan pembangunan dan
perkembangan kota merupakan
determinan utama dalam
menentukan besaran RTH fungsional
ini.
(4) Keberadaan RTH penting dalam
mengendalikan dan memelihara
integritas dan kualitas lingkungan.
Pengendalian pembangunan
wilayah perkotaan harus dilakukan
secara proporsional dan
berada dalam keseimbangan antara
pembangunan dan fungsi-
fungsi lingkungan.
(5) Kelestarian RTH suatu wilayah
perkotaan harus disertai dengan
ketersediaan dan seleksi tanaman
yang sesuai dengan arah
rencana dan rancangannya.
4.2. Definisi
RTH kota adalah bagian dari
ruang-ruang terbuka suatu wilayah
perkotaan (urban spaces) yang diisi
oleh vegetasi guna mendukung
manfaat langsung dan/atau tidak
langsung yang dihasilkan oleh RTH
dalam kota tersebut yaitu keamanan,
kenyamanan, kesejahteraan, dan
keindahan wilayah perkotaan
tersebut.
4.3. Kategorisasi RTH
Berdasarkan bobot kealamiannya,
bentuk RTH dapat
diklasifikasi menjadi :
a. bentuk RTH alami (habitat
liar/alami, kawasan lindung)
b. bentuk RTH non alami atau RTH
binaan (pertanian kota,
pertamanan kota, lapangan olah raga,
pemakaman).
Berdasarkan sifat dan karakter
ekologisnya diklasi-fikasi menjadi :
a. RTH berbentuk kawasan/areal,
meliputi RTH yang berbentuk
hutan (hutan kota, hutan lindung,
hutan rekreasi), taman,
lapangan OR, Kebun Raya, kebun Pembibitan,
Kawasan
Fungsional (RTH kawasan perdagangan,
RTH kawasan
perindustrian, RTH kawasan
permukiman, RTH kawasan
pertanian) RTH kawasan khusus
(Hankam, perlindungan tata
air, plasma nutfah, dan sebagainya).
b. RTH berbentuk jalur / koridor /
linear, meliputi RTH koridor
sungai, RTH sempadan danau, RTH
sempadan pantai, RTH
tepi jalur jalan, RTH tepi jalur
kereta, RTH Sabuk hijau (green
belt), dan sebagainya.
Berdasarkan status kepemilikan, RTH
diklasifikasikan menjadi 2
kelompok:
a. RTH publik, yaitu RTH yang
berlokasi pada lahan-lahan
publik atau lahan yang dimiliki oleh
pemerintah, dan
b. RTH privat atau non publik, yaitu
RTH yang berlokasi pada
lahan-lahan milik privat.
4.4. Fungsi dan Manfaat RTH
RTH publik maupun RTH privat memiliki
fungsi yang strategis.
Fungsi RTH dapat dikelompokkan
menjadi 2, yaitu:
a. Fungsi utama (intrinsik) yaitu
fungsi ekologis, dan
b. fungsi tambahan (ekstrinsik)
yaitu fungsi arsitektural, sosial,
dan fungsi ekonomi.
RTH berfungsi ekologis, yang
menjamin keberlanjutan suatu
wilayah kota secara fisik, harus
merupakan satu bentuk RTH yang
berlokasi, berukuran, dan berbentuk
pasti dalam suatu wilayah kota.
RTH fungsi ini merupakan
perlindungan sumberdaya penyangga
kehidupan
manusia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar.
RTH untuk fungsi-fungsi lainnya
(sosial, ekonomi, arsitektural)
merupakan RTH pendukung dan penambah
nilai kualitas lingkungan
dan budaya kota tersebut, sehingga
dapat berlokasi dan berbentuk
sesuai dengan kebutuhan dan
kepentingannya, seperti untuk ke-
indahan, rekreasi, dan pendukung
arsitektur kota.
Manfaat RTH berdasarkan fungsinya
dibagi atas :
a. manfaat langsung (dalam
pengertian cepat dan bersifat
tangible) seperti mendapatkan
bahan-bahan untuk dijual
(kayu, daun, bunga), kenyamanan
fisik (teduh, segar),
keinginan, dan
b. manfaat tidak langsung (berjangka
panjang dan bersifat
intangible) seperti perlindungan
tata air dan konservasi
hayati atau keanekaragaman hayati.
4.5. Pola dan Struktur Fungsional
Pola RTH kota merupakan struktur RTH
yang ditentukan oleh
hubungan fungsional (ekologis,
sosial, ekonomi, arsitektural) antar
komponen pembentuknya. Pola RTH
terdiri dari:
(a) RTH struktural
RTH struktural merupakan pola RTH
yang dibangun oleh
hubungan fungsional antar komponen
pembentuknya yang
mempunyai pola hierarki planologis
yang bersifat
antroposentris. RTH tipe ini
didominasi oleh fungsi-fungsi non
ekologis dengan struktur RTH binaan
yang berhierarkhi.
Contohnya adalah struktur RTH berdasarkan
fungsi sosial
dalam melayani kebutuhan rekreasi
luar ruang (outdoor
recreation) penduduk perkotaan
seperti yang diperlihatkan
dalam urutan hierakial sistem
pertamanan kota (urban park
system) yang dimulai dari taman
perumahan, taman
lingkungan, taman ke-camatan, taman
kota, taman regional,
dan seterusnya.
(b) RTH non struktural
RTH non struktural merupakan pola
RTH yang dibangun oleh
hubungan fungsional antar komponen
pembentuknya yang
umumnya tidak mengikuti pola
hierarki planologis karena
bersifat ekosentris. RTH tipe ini
memiliki fungsi ekologis yang
sangat dominan dengan struktur RTH
alami yang tidak
berhierarki. Contohnya adalah
struktur RTH yang dibentuk
oleh konfigurasi ekologis bentang
alam perkotaan tersebut,
seperti RTH kawasan lindung, RTH
perbukitan yang terjal,
RTH sempadan sungai, RTH sempadan
danau, RTH pesisir.
Gambar 4.1
Karakteristik RTH
Sumber: Ditjen Penataan Ruang DPU,
2005
PENGHIJAUAN JALAN
Materi tentang penghijauan jalan atau lansekap
jalan, sebagian besar mengacu buku "Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap
Jalan No.033/TBM/1996" merupakan salah satu konsep dasar yang dihasilkan
oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum.
7.1.
Pengertian
Lansekap Jalan adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang
terbentuk pada Iingkungan jalan, baik yang terbentuk dari elemen lansekap
alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah,
maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan
dengan kondisi Iahannya. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena
harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama
bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan Iingkungan
jalan yang indah, nyaman dan memenuhi fungsi keamanan.
7.2.
Ketentuan Penyesuaian dengan persyaratan Geometrik Jalan menurut Letak Jalur
Tanaman
Hal-hal yang dipersyaratkan dan perlu diperhatikan dalam
perencanaan lansekap jalan agar dapat memenuhi penyesuaian dengan persyaratan
geometrik jalan adalah sebagai berikut :
150
(1) Pada jalur tanaman tepi jalan
Jalur tanaman pada daerah ini sebaiknya diletakkan di tepi jalur
lalu lintas, yaitu diantara jalur lalu lintas kendaraan dan jalur pejalan kaki
(trotoar).
Penentuan jenis tanaman yang akan ditanam pada jalur ini harus
memenuhi kriteria teknik perletakan tanaman dan disesuaikan dengan lebar jalur
tanaman.
(2) Pada jalur tengah (median)
Lebar jalur median yang dapat ditanami harus mempunyai lebar
minimum 0.80 meter, sedangkan lebar ideal adalah 4.00 - 6.00 meter Pemilihan
jenis tanaman perlu memperhatikan tempat perletakannya terutama pada daerah
persimpangan, pada daerah bukaan ("U - turn"), dan pada tempat di
antara persimpangan dan daerah bukaan. Begitu pula untuk bentuk median yang
ditinggikan atau median yang diturunkan.
(3) Pada daerah tikungan
Pada daerah ini ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan
dalam hal menempatkan dan memilih jenis tanaman, antara lain jarak pandang
henti, panjang tikungan, dan ruang bebas samping di tikungan.
Tanaman rendah (perdu atau semak) yang berdaun padat dan berwarna
terang dengan ketinggian maximal 0.80 meter sangat disarankan untuk ditempatkan
pada ujung tikungan. 151
(4) Pada daerah persimpangan
Persyaratan geometrik yang ada kaitannya dengan perencanaan
lansekap jalan ialah adanya daerah bebas pandangan yang harus
terbuka agar tidak mengurangi jarak pandang pengemudi. Pada daerah ini
pemilihan jenis tanaman dan perletakannya harus memperhatikan bentuk
persimpangan baik persimpangan sebidang maupun persimpangan tidak sebidang.
7.3. Pemilihan
Jenis Tanaman pada jalur Tanaman Tepi dan Median
1) Ketentuan untuk perletakan tanaman pada jalur tepi dan
jalur tengah (median) disesuaikan dengan potongan melintang standar tergantung
pada klasifikasi fungsi jalan yang bersangkutan (arteri, kolektor atau lokal).
2) Berdasarkan lingkungan di sekitar jalan yang
direncanakan dan ketentuan ruang yang tersedia untuk penempatan tanaman
lansekap jalan. Maka untuk menentukan pemilihan jenis tanamannya ada 2 (dua)
hal lain yang perlu diperhatikan yaitu fungsi tanaman dan persyaratan
penempatannya. Dari contoh-contoh berikut ini diharapkan dapat memberikan
kemudahan dalam pemilihan jenis tanaman lansekap jalan, dan disarankan agar dipilih
jenis tanaman khas daerah setempat, yang disukai oleh burung-burung, serta
rendah evapotranspirasinya.
152 153 154 155 156
7.4. Pemilihan
Jenis Tanaman pada Daerah Tikungan
Ketentuan perletakan dan pemilihan jenis
tanaman lansekap jalan pada daerah tikungan perlu memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
(1) Bentuk Tikungan Daerah Bebas Samping di
Tikungan
(2) Pemilihan Jenis Tanaman pada Daerah Tikungan
Penentuan jenis tanaman ditentukan dengan melihat bentuk
tikungan dan mengetahui luas daerah bebas samping di tikungan. Disarankan, agar
baik pada awal tikungan maupun di daerah bebas samping digunakan tanaman dengan
ketinggian < 0.80 meter, supaya dapat mengarahkan tetapi tidak menutupi
pandangan pengemudi kendaraan.
7.5. Pemilihan Jenis Tanaman pada Persimpangan
Beberapa hal penting yang, perlu dipertimbangkan dalam
penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan, antara lain :
1) Daerah Bebas Pandang di Mulut Persimpanqan
Pada mulut persimpangan harus ada daerah terbuka agar
tidak menghalangi pandangan pengemudi sehingga akan memberikan rasa aman. Untuk
daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan
dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya.
(lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan
Pada Persimpangan” No. 02/T/BNKT/1992). Sebagai contoh dapat dilihat pada tabel
berikut :
Catatan :
- Tanaman rendah, berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0.80 meter
- Tanaman tinggi, berbentuk pohon dengan percabangan di atas 2 meter
2). Pemilihan jenis Tanaman pada Persimpanqan
Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri
dari persimpangan itu atau lokasi setempat. Ada yang menempatkan jam kota,
ornamen-ornamen seperti patung, air mancur, gapura, atau tanaman yang spesifik.
Penempatan dan pemilihan bentuk / desain semua
benda-benda ini harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik pada persimpangan
dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
159 160
(a) Daerah bebas pandang tidak
diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi. Sebaiknya
digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0.80
meter, dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah, misalnya :
- Ixora stricata (
soka berwarna-warni )
- Lantana camara (
lantana )
- Duranta sp (
pangkas kuning ).
(b) Bila pada persimpangan ada pulau
lalu lintas atau kanal yang dimungkinkan untuk ditanami, sebaiknya digunakan
tanaman perdu rendah dengan pertimbangan agar tidak mengganggu penyeberang
jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan.
(c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk
tanaman pohon sebagai tanaman pengarah, digunakan :
- Tanaman
berbatang tunggal seperti jenis palem
Contoh :
- Oreodoxa regia - palem raja
- Areca Catechu - pinang jambe
- Borassus Flabellifer - lontar
(siwalan)
- Tanaman pohon bercabang > 2 meter
Contoh :
- Khaya Sinegalensis - Khaya
- Lagerstromea Loudonii - bungur
- Mimusops Elengi - tanjung.
Contoh pemilihan jenis tanaman sesuai
dengan fungsi, bentuk dan penempatannya pada daerah tikungan dan daerah
persimpangan dapat dilihat pada penjelasan berikut ini.
1. Tanaman tinggi yang dapat terlihat
dari jauh.
2. Menggunakan tanaman bermassa daun
padat/tidak mudah rontok dan batang/dahan tidak merenggas (mudah patah).
3. Tanaman memiliki bentuk
tajuk/mahkota yang indah dan berbunga/berdaun indah.
4. Sistem perakarannya tidak merusak
konstruksi jalan.
5. Penggunaan tanaman pengarah pada
pada sisi yang memungkinkan. Pada sisi tegak lurus diletakkan tanaman pengarah,
agar kendaraan dari jauh dapat mengetahui bahwa ada simpang tiga dihadapannya,
sehingga dapat
mempersiapkan diri untuk mengarahkan
kendaraannya ke kiri atau ke kanan.
6. Tahan terhadap intensitas terik
matahari dan mudah pemeliharaannya.
4). Tipe Lansekap Jalan dengan Bukaan
Tipe 1. Tempat Putaran
Tipe 2. Persimpangan
Di bawah ini disajikan beberapa contoh gambar desain
lansekap jalan raya.
VI. TINJAUAN EMPIRIS
Pemanasan global
Dari Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas
Temperatur
rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990
Anomali
temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan
dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980
Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada
permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar
peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan
besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi
gas-gas
rumah kaca akibat aktivitas manusia"
[1]
melalui
efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah
dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua
akademi sains nasional dari negara-negara
G8. Akan tetapi, masih
terdapat beberapa
ilmuwan
yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan
global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara
tahun 1990 dan 2100.
[1]
Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario
berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model
sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus
pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan
akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas
rumah kaca telah stabil.
[1]
Ini mencerminkan besarnya
kapasitas
panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan
yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena
cuaca yang ekstrim,
[2]
serta perubahan jumlah dan pola
presipitasi.
Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian,
hilangnya
gletser,
dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah
pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan
serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu
daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik
dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk
mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi
terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan
negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi
Protokol
Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Penyebab
pemanasan global
Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang
terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut
berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia
berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian
panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi
infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian
panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon
dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan
memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas
tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus
sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi
sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi
gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat
dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet
ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59
°F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperaturnya semula,
jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi
seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah
berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
Efek umpan balik
Anasir penyebab pemanasan global
juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai
contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya
gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan
menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air
sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah
jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap
air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh
akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan
kandungan air absolut di udara, kelembaban
relatif udara hampir
konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3]
Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO
2
memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan
akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan
meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut
akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga
meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan
atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe
dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam
model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan
jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga
500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat).
Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan
dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam
semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.[3]
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (
albedo) oleh
es.
[4]
Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair
dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut,
daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki
kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan
akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah
pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu
siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO
2 dan CH
4
dari melunaknya tanah beku
(permafrost)
adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es
yang meleleh juga akan melepas CH
4 yang juga menimbulkan umpan balik
positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia
menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona
mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan
diatom daripada
fitoplankton
yang merupakan penyerap karbon yang rendah.
[5]
Variasi Matahari
Variasi Matahari
selama 30 tahun terakhir.
Terdapat hipotesa yang menyatakan
bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari
awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.[6]
Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah
meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan
stratosfer
sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer
bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,
[7]
yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama
pemanasan saat ini. (Penipisan
lapisan
ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan
tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari
dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek
pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan
sejak tahun 1950.
[8][9]
Ada beberapa
hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah
diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari
Duke University
mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50%
peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar
25-35% antara tahun 1980 dan 2000.
[10]
Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat
ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan
dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari
debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.
[11]
Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan
sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar
pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas
rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari
Amerika
Serikat,
Jerman
dan
Swiss
menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat
"keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus
Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat
"keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil
untuk berkontribusi terhadap pemansan global.
[12][13]
Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan
antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui
variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.
[14]
Peternakan
(konsumsi daging)
Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB yang terdiri
dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia
selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sejak
Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm
menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan
konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir!
IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia,
seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya selama 50
tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri,
aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan
penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar
fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang
pada pemanasan global.
[15]
Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir
ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi dan berubahnya sistem
iklim di bumi terkait langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh
aktivitas manusia.
Khusus untuk mengawasi sebab dan dampak yang dihasilkan oleh pemanasan global,
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk sebuah kelompok peneliti yang
disebut dengan Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim atau disebut
International Panel on Climate Change (IPCC). Setiap beberapa tahun sekali,
ribuan ahli dan peneliti-peneliti terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC
mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan penemuan-penemuan terbaru yang
berhubungan dengan pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari laporan dan
penemuan- penemuan baru yang berhasil dikumpulkan, kemudian membuat persetujuan
untuk solusi dari masalah tersebut .
Salah satu hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa beberapa jenis gas
rumah kaca bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita alami, dan
manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca tersebut.
Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan
bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, pembangkit tenaga
listrik, serta pembabatan hutan.
Tetapi, menurut Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang peternakan dan
lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, "industri
peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah
ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di
seluruh dunia (13%). " Hampir seperlima (20 persen) dari emisi karbon
berasal dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi gabungan yang
berasal dari semua kendaraan di dunia!
[16][17][18]
Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen karbon dioksida, 37 persen gas
metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam jangka 20
tahun, dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), serta 65 persen dinitrogen oksida
(mempunyai efek pemanasan 296 kali lebih lebih kuat dari CO2). Peternakan juga
menimbulkan 64 persen amonia yang dihasilkan karena campur tangan manusia
sehingga mengakibatkan hujan asam.
[19]
Peternakan juga telah menjadi
penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan
menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak
lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak.
Menurut laporan Bapak Steinfeld,
pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama
dari Peternakan - Isu dan Pilihan Lingkungan (Livestock's Long
Shadow-Environmental Issues and Options), peternakan adalah "penggerak
utama dari penebangan hutan .... kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon
telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. [20]
Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20
persen dari padang
rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan
erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang
sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi
digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya.
Sekitar 85 persen dari sumber air bersih di
Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologi
berlebihan bagi ekosistem.
Konsumsi air untuk menghasilkan
satu kilo makanan dalam pertanian pakan ternak di Amerika Serikat
|
1 kg daging
|
Air (liter)
|
|
Daging sapi
|
1.000.000
|
|
Babi
|
3.260
|
|
Ayam
|
12.665
|
|
Kedelai
|
2.000
|
|
Beras
|
1.912
|
|
Kentang
|
500
|
|
Gandum
|
200
|
|
Slada
|
180
|
Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem, tidak sulit untuk
menghitung bahwa industri ternak sama sekali tidak hemat energi. Industri
ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak menjadi daging di
atas meja makan orang. Untuk memproduksi satu kilogram daging, telah
menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo. Sedangkan untuk
memproduksi satu kalori protein, kita hanya memerlukan dua kalori bahan bakar
fosil untuk menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk jagung dan gandum;
akan tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah untuk protein daging sapi!
Itu berarti kita telah memboroskan bahan bakar fosil 27 kali lebih banyak
hanya untuk membuat sebuah hamburger daripada konsumsi yang diperlukan untuk
membuat hamburger dari kacang kedelai!
Dengan menggabungkan biaya energi, konsumsi air, penggunaan lahan, polusi
lingkungan, kerusakan ekosistem, tidaklah mengherankan jika satu orang berdiet
daging dapat memberi makan 15 orang berdiet tumbuh-tumbuhan atau lebih.
Marilah sekarang kita membahas apa saja yang menjadi sumber gas rumah kaca yang
menyebabkan pemanasan global.
Anda mungkin penasaran bagian mana dari sektor peternakan yang menyumbang
emisi gas rumah kaca.
Berikut garis besarnya menurut FAO:[21]
1. Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak
a. Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton
CO2 setiap tahunnya
b. Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per
tahunnya (misal diesel atau LPG)
c. Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 milyar
ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak,
lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau
pembukaan hutan untuk lahan peternakan
d. Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak
(misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2 per
tahunnya.
Perlu Anda ketahui,
setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan
sebagai makanan ternak.7
e. Karbon yang terlepas dari
padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO2 per
tahunnya
2. Emisi karbon dari sistem
pencernaan hewan
a. Metana yang dilepaskan dalam
proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.
b. Metana yang terlepas dari
pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.
3. Emisi karbon dari pengolahan
dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen
a. Emisi CO2 dari pengolahan
daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun.
b. Emisi CO2 dari pengangkutan
produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0,8 juta ton per tahun.
Dari uraian di atas, Anda bisa melihat besaran sumbangan emisi gas rumah kaca
yang dihasilkan dari tiap komponen sektor peternakan. Di Australia, emisi gas
rumah kaca dari sektor peternakan lebih besar dari pembangkit listrik tenaga
batu bara. Dalam kurun waktu 20 tahun, sektor peternakan Australia menyumbang 3
juta ton metana setiap tahun (setara dengan 216 juta ton CO2), sedangkan sektor
pembangkit listrik tenaga batu bara menyumbang 180 juta ton CO2 per tahunnya.
Tahun lalu, penyelidik dari
Departemen Sains Geofisika (Department of Geophysical Sciences) Universitas
Chicago, Gidon Eshel dan Pamela Martin, juga menyingkap hubungan antara
produksi makanan dan masalah lingkungan. Mereka mengukur jumlah gas rumah kaca
yang disebabkan oleh daging merah, ikan, unggas, susu, dan telur, serta
membandingkan jumlah tersebut dengan seorang yang berdiet vegan.
Mereka menemukan bahwa jika diet
standar Amerika beralih ke diet tumbuh-tumbuhan, maka akan dapat mencegah satu
setengah ton emisi gas rumah kaca ektra per orang per tahun. Kontrasnya,
beralih dari sebuah sedan standar seperti Toyota Camry ke sebuah Toyota Prius
hibrida menghemat kurang lebih satu ton emisi CO2.
Mengukur
pemanasan global
Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa
Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil
akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata
global.
Hipotesis
ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program
penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel
atmosfer dari puncak gunung
Mauna Loa di
Hawai.
Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbon
dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan
cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan
konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa
iklim global semakin
menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat.
Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke
lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh
data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (
trend) yang jelas.
Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini,
akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya.
Stasiun
cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga
pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh
bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan
jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya
(terletak jauh dari perkotaan), serta dari
satelit.
Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen
permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan
bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika
dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama
seratus tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas
terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.
Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001,
Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah
meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju
bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang
menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan
temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga
11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.
IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer
tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama
periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. karbon dioksida
akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam
mampu menyerapnya kembali.
[22]
Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi,
konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat
pada awal abad ke-22 bila dibandingkan masa sebelum era industri. Akibatnya,
akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa
perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia
akan menghadapi masalah ini dengan resiko populasi yang sangat besar.
Model iklim
Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario
kestabilan (pita berwarna) berdasarkan Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis
hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru menunjukkan
batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi.
Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa
model
iklim berdasarkan scenario
SRES
A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi
emisi.
Para ilmuan telah mempelajari pemanasan
global berdasarkan model-model computer berdasarkan prinsip-prinsip dasar
dinamikan fluida, transfer radiasi, dan proses-proses lainya, dengan beberapa
penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan komputer.
Model-model ini memprediksikan bahwa penambahan
gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat.[23]
Walaupun digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca
di masa depan,
sensitivitas
iklimnya masih akan berada pada suatu rentang tertentu.
Dengan memasukkan unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah
kaca dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar 1.1 °C
hingga 6.4 °C (2.0 °F hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan
2100.
[1]
Model-model iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab perubahan
iklim yang terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang teramati dengan
hasil prediksi model terhadap berbagai penyebab, baik alami maupun aktivitas
manusia.
Model iklim saat ini menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan
temperature global hasil pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak
mensimulasi semua aspek dari iklim.
[24]
Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi
antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oleh proses alami atau aktivitas
manusia; akan tetapi; mereka menunjukkan bahwa pemanasan sejak tahun 1975
didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.
Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitung iklim di masa depan,
dilakukan berdasarkan skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan
Khusus terhadap Skenario Emisi (
Special Report on Emissions Scenarios /
SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan menambahkan simulasi
terhadap
siklus karbon; yang biasanya menghasilkan umpan balik
yang positif, walaupun responnya masih belum pasti (untuk skenario A2 SRES,
respon bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm CO
2).
Beberapa studi-studi juga menunjukkan beberapa umpan balik positif.
[25][26][27]
Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan
ketidakpastian terhadap model-model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang
telah ada kemajuan dalam menyelesaikan masalah ini.
[28]
Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah
model-model iklim mengesampingkan efek-efek umpan balik dan tak langsung dari
variasi
Matahari.
Dampak
pemanasan global
Para ilmuan menggunakan model komputer dari
temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari
pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat
beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap
cuaca, tinggi
permukaan air laut,
pantai,
pertanian,
kehidupan hewan liar dan kesehatan
manusia.
Iklim Mulai
Tidak Stabil
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama
pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (
Northern
Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya,
gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil.
Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan
Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin
tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang
ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam
akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih
lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum
begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau
menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah
kaca, sehingga
keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk
awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke
angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah
hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit
pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam
seratus tahun terakhir ini)[29]. Badai akan menjadi
lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya
beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup
lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (
hurricane)
yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar.
Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin
mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
Peningkatan
Permukaan Laut
Perubahan tinggi
rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara
geologi.
Ketika atmosfer menghangat,
lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar
dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es
di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut.
Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi)
selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9
- 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan
sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan
menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing,
pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara
sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya
akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya,
sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari
daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi
muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi)
akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak
di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan
menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
Suhu Global Cenderung Meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa
Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi
hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya
curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis
semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air
irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack
(kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan
mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan
serangga dan penyakit yang lebih hebat.
Gangguan Ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi
makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian
besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung
untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah
arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan
menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau
selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan
mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju
kutub mungkin juga akan musnah.
Dampak Sosial Dan Politik
Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya
penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen
sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan
permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan
penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan
kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai
dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul
penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan
lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran
penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan
adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes
Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat
tertentu yang target nya adala organisme tersebut. Selain itu bisa diprediksi
kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi ataupun
punah dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem ini. hal ini juga akan
berdampak perubahan iklim (Climat change)yang bis berdampak kepada peningkatan
kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran hutan, DBD
Kaitan dengan musim hujan tidak menentu)
Gradasi Lingkungan yang disebabkan
oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases
dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas
pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap
penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan
lain-lain.
Perdebatan tentang pemanasan global
Tidak semua ilmuwan setuju
tentang keadaan dan akibat dari pemanasan global. Beberapa pengamat masih
mempertanyakan apakah temperatur benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui
perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini
untuk membuat prediksi tentang keadaan di masa depan. Kritikan seperti ini juga
dapat membantah bukti-bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap
pemanasan global dengan berargumen bahwa siklus alami dapat juga meningkatkan
temperatur. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan
dapat menguntungkan di beberapa daerah.
Para ilmuwan yang mempertanyakan
pemanasan global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan
antara prediksi model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi
pada iklim. Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga dekade pada
pertengahan abad ke-20; bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada
tahun 1970-an. Kedua, jumlah total pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh
dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, troposfer, lapisan atmosfer terendah, tidak memanas secepat
prediksi model. Akan tetapi, pendukung adanya pemanasan global yakin dapat
menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.
Kurangnya pemanasan pada
pertengahan abad disebabkan oleh besarnya polusi udara yang menyebarkan partikulat-partikulat, terutama sulfat, ke atmosfer. Partikulat ini, juga dikenal sebagai aerosol, memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa luar. Pemanasan
berkelanjutan akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena adanya kontrol
terhadap polusi yang menyebabkan udara menjadi lebih bersih.
Keadaan pemanasan global sejak
1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi disebabkan penyerapan panas
secara besar oleh lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi
tidak memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, U.S.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memberikan hasil
analisa baru tentang temperatur air yang diukur oleh para pengamat di seluruh
dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya
kecenderungan pemanasan: temperatur laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2
derajat Celsius (0,3 derajat Fahrenheit) daripada temperatur rata-rata 50 tahun
terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukup berarti.[29]
Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit mendeteksi lebih sedikit
pemanasan di troposfer dibandingkan prediksi model. Menurut beberapa kritikus,
pembacaan atmosfer tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan
Bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari 2000, sebuah panel yang ditunjuk
oleh
National Academy of Sciences untuk membahas masalah ini mengakui
bahwa pemanasan permukaan Bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi,
pengukuran troposfer yang lebih rendah dari prediksi model tidak dapat
dijelaskan secara jelas.
Pengendalian pemanasan global
Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun.
Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada
yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini
adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk
mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.
Kerusakan yang parah dapat
diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan
penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat
membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa
negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan
tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum
dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan
berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.
Ada dua pendekatan utama untuk
memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon
dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen
karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration
(menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Menghilangkan karbon
Cara yang paling mudah untuk
menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan
menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan
cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya
melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang
tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika
diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan
rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan
kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbon dioksida juga dapat
dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas
tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke
permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk
mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara
atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbon dioksida yang terbawa ke
permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer
sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.
Salah satu sumber penyumbang
karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar
fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20,
energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren
penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah
mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan
karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila
dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara.
Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya
yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
Persetujuan internasional
Kerjasama internasional
diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992,
pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju
untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada
tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang
lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.
Perjanjian ini, yang belum
diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang
persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong
emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini
harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang
lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat
1990; Uni Eropa, yang menginginkan perjanjian yang lebih keras,
berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian
besar negara
berkembang, tidak diminta
untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.
Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden
Amerika Serikat yang baru
terpilih, George W.
Bush mengumumkan bahwa
perjanjian untuk pengurangan karbon dioksida tersebut menelan biaya yang sangat
besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang
tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbon dioksida ini. Kyoto
Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang bertanggung
jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak
meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir
Putin meratifikasi
perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari 2005.
Banyak orang mengkritik Protokol
Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya
akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di
atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena
negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan
menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol
ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak,
industri batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung
pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang
diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar
AS, terutama disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto
percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat
lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah
mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.
Pada suatu negara dengan
kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun
berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon
dioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil
mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam
mengurangi produksi karbon dioksida.
Setelah tahun 1997, para
perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk
menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan
pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas
rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki
program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak
polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut perdagangan
karbon. Sebagai contoh,
negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli
kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah.
Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan.
Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat
tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di
bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke
negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.
Konservasi Tanah dan Air di Lahan Kering
Juli
3, 2007 — La An
Berdasarkan
data yang dibuat oleh puslitbangtanak pada tahun 2002, potensi lahan kering di
Indonesia sekitar 75.133.840 ha. Suatu keadaan lahan yang sangat luas. Akan
tetapi lahan2 kering tersebut tidak begitu menghasilkan dan berguna bagi
masyarakat yang tinggal di sekitar area lahan kering. Hal ini disebabkan oleh
masih kurangnya teknologi pengelolaan lahan kering sehingga sering
mengakibatkan makin kritisnya lahan2 kering.
Erosi,
kekurangan air dan kahat unsur hara adalah masalah yg paling serius di daerah
lahan kering. Paket2 teknologi untuk mananggulangi masalah2 tersebut juga dah
banyak, akan tetapi kurang optimal di manfaatkan karena tidak begitu signifikan
dalam meningkatkan kesejahteraan petani daerah lahan kering. Memang perlu
kesabaran dalam pengelolaan daerah lahan kering, karena meningkatkan
produktivitas lahan di daerah lahan kering yang kondisi lahannya sebagian besar
kritis dan potensial kritis tidaklah mudah.
Konservasi
tanah dan air merupakan cara konvensional yang cukup mampu menanggulangi
masalah diatas. Dengan menerapkan sisitem konservasi tanah dan air diharapkan
bisa menanggulangi erosi, menyediakan air dan meningkatkan kandungan hara dalam
tanah serta menjadikan lahan tidak kritis lagi. Ada 3 metode dalam dalam
melakukan konservasi tanah dan air yaitu metode fisik dengan pegolahan
tanahnya, metode vegetatif dengan memanfaatkan vegetasi dan tanaman untuk
mengurangi erosi dan penyediaan air serta metode kimia yaitu memanfaatkan
bahan2 kimia untuk mengaawetkan tanah.
Menurut
Sitanala Arsyad (1989), Konservasi Tanah adalah penempatan setiap bidang tanah
pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan
memperlakukkannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak
terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi Air menurut Deptan (2006) adalah
upaya penyimpanan air secara maksimal pada musim penghujan dan pemanfaatannya
secara efisien pada musim kemarau. Konservasi tanah dan konservasi air selalu
berjalan beriringan dimana saat melakukan tindakan konservasi tanah juga di
lakukan tindakan konservasi air.
Dengan
dilakukan konservasi tanah dan air di lahan kering diharapkan mampu mengurangi
laju erosi dan menyediakan air sepanjang tahun yang akhirnya mampu meningkatkan
produktivitasnya. Tanah2 di daerah lahan kering sangat rentan terhadap erosi.
Daerah lahan kering biasanya mempunyai curah hujan yg rendah dan intensitas yg
rendah pula, dengan kondisi seperti itu menyebabkan susahnya tanaman2 tumbuh
dan berkembang, padahal tanaman merupakan media penghambat agar butiran hujan
tidak berbentur langsung dengan tanah. Benturan seperti inilah yg menyebabkan
tanah mudah terurai sehingga gampang di bawa oleh aliran air permukaan dan
akhirnya terjadi erosi. Pemanfaatan vegetasi pada system konservasi tanah dan
air selain sebagai penghambat benturan juga berguna sebagai penghambat aliran
permukaan, memperbaiki tekstur tanah dan meningkatkan kadar air tanah.
Penggabungan
metode vegetatif dan fisik dalam satu teknologi diharapkan mampu mengefisienkan
waktu dan biaya yg dibutuhkan. Misalkan penanaman tanaman pada sebuah guludan ato
penanaman tanaman di sekitar rorak. Dan langkah terakhir yg di harapkan adalah
penanaman tanaman yg bernilai ekonomis tinggi seperti jambu mete.
DATA LOKASI PUNCAK PENGHIJAUAN DAN KONSERVASI ALAM
Perode/Tahun Luas Areal (Ha) Pemanfaatan
1 Jawa Barat/Bogor I/ 1961 4 Konservasi
2 Jawa Barat/Cirebon II/1962 5 Hutan Wisata
3 D.I. Jogyakarta/Gunung Kidul III/!963 10 Produksi Kayu
4 Jawa Timur/Blitar IV/1964 10 -
5 - V/1965 - -
6 Jawa Tengah/Wonogiri VI/1966 40 -
7 Jawa Tengah/Magelang VII/1967 33 -
8 Jawa Barat/garut VIII/1968 25 Kebun Rakyat
9 Lampung/Lampung Selatan IX/1969 50 -
10 Sulawesi Selatan/Sidrap X/1970 50 -
11 Jawa Timur/Ponorogo XI/1971 250 -
12 Sulawesi Utara/Gorontalo XII/1972 50 -
13 Sulawesi Tengah/Donggala XIII/1973 60 -
14 Nusa Tenggara Timur/Kupang XIV/1974 50 -
15 Sumatera Utara/Tapanuli Utara XV/1975 25 -
16 Kalimantan Barat/Sambas XVI/1976 20 -
17 Kalimantan Selatan/Banjar XVII/1977 20 Rekreasi & Cagar Alam
18 Sumatera Selatan/Lahat XVIII/1978 25 Rekreasi, Pendidikan
19 Nusa Tenggara Timur/Kupang XIX/1979 20 -
20 Riau/Kampar XX/1980 20 Kemah,bakti Pramuka
21 Sulawesi Tenggara/Kendari XXI/1981 30 Percontohan Pendidikan
22 Sumatera Barat/Solok XXII/1982 10 -
23 Bali/Karangasem XXIII/1983 10 Bumi Perkemahan
24 Nusa Tenggara Barat/Lombok Barat XXIV/1984 10 Obyek Wisata
25 Jawa Tengah/Wonogiri XXV/1985 10 -
26 Jawa Barat/Bandung XXVI/1986 220 Rekreasi Perkemahan
27 Sulawesi Selatan/Gowa XXVII/1987 20 -
28 Jawa Timur/Blitar XXVIII/1988 8 -
29 Kalimantan Selatan/Banjar XXIX/1989 3 Rekreasi Perkemahan
30 Sulawesi Tengah/Donggala XXX/1990 40 Rekreasi Perkemahan
31 Riau/Pulau Bintan XXXI/1991 20 Rekreasi Perkemahan
32 Sulawesi Utara/Gorontalo XXXII/1992 76 -
33 Jambi/Batanghari XXXIII/1993 125 -
34 Maluku/ambon XXXIV/1994 100 Rekreasi Perkemahan
35 Aceh/Aceh Besar XXXV/1995 10 -
36 Kalimantan Barat/Pontianak XXXVI/1996 10 -
37 Kalimantan Timur/ Balikpapan XXXVII/1997 10 -
38 Jawa Barat/Bogor XXXVIII/1998 10 Pendidikan
39 Jawa Tengah/Pemalang XXXIX/1999 2 Konservasi Pantai
40 Kalimantan Tengah/Kapuas XXXX/2000 2 Arboretum,Pendidikan
41 Bengkulu/Bengkulu Utara XXXXI/2001 5 Hutan Wisata
Jumlah 1,498
Sumber : Pusat Bina
Penyuluhan Kehutanan.
SIARAN
PERS
Nomor : S. 376/PIK-1/2008
DEPHUT
SERAHKAN PENGHARGAAN PEMENANG LOMBA PENGHIJAUAN DAN KONSERVASI ALAM TINGKAT
NASIONAL TAHUN 2008
Departemen
Kehutanan menyerahkan penghargaan pemenang Lomba Penghijauan dan Konservasi
Alam Nasional tahun 2008.
Untuk kelompok Desa/kelurahan Peduli
Kehutanan, terpilih Desa Benteng Paremba, Kec. Lembang, Kab. Pinrang, Sulawesi
Selatan, Desa Burat, Kec. Kepil, Kab. Wonosobo, Jawa Tengah, dan Desa
Karangasem, Kec. Paliyan, Kab. Gunung Kidul, D.I. Jogjakarta. Ketiga desa
tersebut berprestasi dan pantas menerima penghargaan karena melakukan
pengamanan hutan, penghijauan, dan pembibitan kayu secara swadaya. Keberhasilan
penghijauan tersebut ditunjukkan dengan munculnya mata air yang dapat
dimanfaatkan seluruh warga. Selain
itu mereka juga membangun hutan rakyat, melakukan reboisasi, rehabilitasi
hutan, sampai melakukan konservasi satwa.
Untuk
kategori Kader Konservasi Alam terpilih Paris Sembiring (Sumatera Utara), Hayun
Kunye (Gorontalo), dan Ramses Ohee (Papua). Mereka memperoleh pengakuan dan
penghargaan atas prestasinya sebagai pendiri Bank Pohon, penyumbang bibit
hingga 1 juta pohon, penyelamat dan penangkar maleo dari awalnya berjumlah 30
ekor hingga kini menjadi 3000 ekor lebih, dan kegigihan mereka dalam melakukan
penyuluhan penyelamatan lingkungan kepada masyarakat setempat.
VII. ANALISIS SITUASI
VIII. RENCANA PENYELESAIAN MASALAH
Untuk menjawab
pokok-pokok masalah pada angka romawi II, di bawah ini akan dijelaskan tentang
rencana penyelesaian masalah. Secara umum pokok permasalahan dimaksud dapat
dipecahkan/ diselesaikan dengan cara penanaman sejuta pohon untuk penghijauan
bumi sebagai usaha pelestarian alam dengan metode sebagai berikut:
8.1. Rencana Teknis Operasional/ Metode Implementasi Program
8.1.1.
Pengadaan tanaman menurut kelompok jenis tanaman
|
No
|
Kelompok Tanaman
|
TWCB
|
JATENG
|
DIY
|
Satuan bibit pohon
|
|
1
|
K.T. Langka
|
|
|
|
|
|
2
|
K.T. Hortikultura
|
|
|
|
|
|
3
|
K.T. Penahan Air
|
|
|
|
|
|
4
|
K.T. Kayu
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.1.2.
Penanaman:
Penentuan kelompok lahan yang
ditanami dan luasannya (Lahan yang dihijaukan):
|
No
|
Kelompok Lahan
|
Luasan (Ha)
|
|
TWCB
|
Jateng
(kab.Mgl & Pwrj)
|
DIY
|
TOTAL
|
|
1
|
Taman WCB/ Tapurnas
|
|
|
|
|
|
2
|
Lahan Penghijauan Hutan
|
|
|
|
|
|
3
|
Lahan Penghijauan DAS
|
|
|
|
|
|
4
|
Lahan Penghijauan Jalan
|
|
|
|
|
|
5
|
Lahan Penghijauan Kota
|
|
|
|
|
|
6
|
Lahan Penghijauan Pekarangan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.1.3.
Distribusi dan Penanaman
|
No
|
Distribusi
|
TWCB
|
JATENG
|
DIY
|
TOTAL
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No
|
Penanaman
|
TWCB
|
JATENG
|
DIY
|
TOTAL
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.1.4.
Pemeliharaan
Pada dasarnya
pemeliharaan pasca tanam, tanaman dirawat oleh organisasi atau perorangan yang
telah diberi secara gratis tanaman oleh tim pelaksana program untuk menjaga
kelangsungan hidup tanaman diberikan bantuan dana pemeliharaan Rp 5.000 per
pohon.
8.1.5.
Pemantauan pertumbuhan tanaman
Pemantauan
pertumbuhan tanaman untuk mengetahui perkembangan tumbuhnya dan kesehatan
tanam. Tim bekerja sama dengan seorang perangkat desa untuk memantau
perkembangan tumbuhnya tanaman dan menyusun laporannya dengan diberi honor Rp 500.000,-/
bulan selama 4 bulan.
8.2. Sasaran Kegiatan Program
Pihak-pihak yang diminta untuk
menanamnya:
1.
Instansi-instansi pemerintah swasta (lahan berkantor)
2.
Sekolahan
3.
Kampus
4.
Taman WCB/ Tapurnas
5.
Pegawai Negeri
6.
Pegawai Swasta
7.
Petani
8.
Rumah Sakit
9.
Tempat Ibadah (masjid, gereja, dll)
8.3. Pemilihan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS)
1.
Diperlukan orang yang mengetahui tentang ilmu tanaman (
Botanist), yaitu untuk menentukan jenis-jenis tanaman dan jenis tanah yang
cocok untuk jenis tanam tersebut.
2.
Diperlukan ilmu manajemen akuntansi untuk pengelolaan
administrasi keuangan.
3.
Diperlukan ilmu kesekretariatan untuk mengelola
administrasi perkantoran tim pelaksana.
4.
Diperlukan teknologi tepat guna yang sederhana berkenaan
dengan penanaman, misalnya: mesin penggali lubang tanam dan troli angkut.
5.
Diperlukan teknologi humidifier kontrol untuk inkubasi tanaman yang perlu tunggu giliran
tanaman.
6.
Pada saat ini belum diperlukan ilmu seni, baru kemudia
setelah beberapa tahun sangat diperlukan untuk olah hasil kayunya (panen kayu
tahunan).
8.4. Garis Besar Manajemen Pelaksanaan Program
1.
Tim Pelaksana program sesuai bidangnya bergerak untuk
mengerjakan proposal ini kepada Badan, Instansi atau perorangan yang dipandang
tepat untuk dimohon partisipasinya sebagai penyandang dana/ donatur, misalnya:
PERTAMINA, Perusahaan Angkutan, dll)
2.
Tim Pelaksana program berkoordinasi secara intensif
dengan Instansi terkait, misalnya: Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan/ desa,
kampus, sekolah, dll, dlaam rangka pelaksanaan distribusi tanaman untuk
ditanam. Dalam hal ini dengan didahului adanya pendekatan/ penyuluhan khalayak
akan pentingnya penghijauan.
IX. TARGET LUARAN TAHUNAN
|
No
|
|
Tahun
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
X. KELAYAKAN ORGANISASI PENGUSUL
Sebagai pengusul Program Pelestarian
Alam dengan Penanaman Sejuta Pohon pada Kawasan Taman Wisata Candi Borobudur
dan Daerah Sekitarnya di Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
adalah PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko dengan
membentuk suatu tim pelaksana program yang secara legal dibentuk dengan suatu
surat keputusan Direktur Utama. Adapun kegiatan program tersebut bersifat
sosial yaitu pengabdian kepada masyarakat di daerah sekitar wisata Candi
Borobudur.
10.1. Pengalaman
Organisasi
10.1.1. Penanaman
pohon-pohon yang tergolong langka di sebagian lahan taman wisata Candi
Borobudur ± 85 Ha pada tahun 1987 sebagai green safety belt Candi Borobudur.
10.1.2. Penanaman
pohon-pohon yang tergolong langka di sebagian lahan taman wisata Candi
Prambanan ± 80 Ha pada tahun 1987 sebagai green safety belt Candi Prambanan.
10.1.3. Penghijauan
dengan tanaman keras di bukit Boko dan sekitarnya seluas ± 20 Ha pada tahun
1991 bekerja sama dengan STIPER Yogyakarta.
10.2. Sumber
Daya Manusia
10.2.1.
Dari dalam perusahaan, diperbantukan tenaga-tenaga sesuai
dengan bidnagnya:
1. Bidang pertanian dan
pertanaman = 2 orang
2. Bidang manajemen = 2 orang
3. Bidang keuangan = 2 orang
4. Bidang pertanahan =
1 orang
5. Bidang logistik = 1
orang
10.2.2.
Dari luar perusahaan, dimohonkan bantuan tenaga dari
instansi terkait untuk koordinasi pelaksanaan kegiatan program, antara lain:
1. Pemerintah
Daerah terkait
2. Dinas terkait
3. Tokoh
Masyarakat
10.2.3.
Struktur OrganisasiTim Pelaksana
10.3. Fasilitas
Fasilitas-fasilitas yang ada pada
organisasi pengusul antara lain:
3.
Kendaraan untuk transportasi kegiatan.
4.
Perlengkapan kantor untuk Tim Pelaksana Program
5.
Peralatan komunikasi
6.
Komputer
7.
Soft Ware Akuntansi
10.4. Jadwal
Kerja
|
NO
|
URAIAN KEGIATAN
|
TAHUN
I
( KWARTAL )
|
TAHUN II
( KWARTAL )
|
TAHUN III
( KWARTAL )
|
TAHUN
IV
( KWARTAL )
|
TAHUN
V
( KWARTAL )
|
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
XI. RENCANA SUMBER PEMASUKAN DANA DAN BIAYA PROGRAM
11.1.
Rencana Sumber-sumber pemasukan dana:
11.2.
Rekapitulasi Rencana Biaya Program
|
No
|
Item Biaya
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
Total
|
%
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11.3.
Rincian Rencana Program
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN